Potensi Empat Poros Koalisi

  • Bagikan
Peta Potensi Koalisi Pilpres

Ia menjelaskan, di tubuh KIB, Golkar akan menjadi king maker dimana Airlangga menjadi proses tawar terkuat. Sedangkan, di kubu Kebangkitan Indonesia Raya dengan Prabowo masih menjadi sentra politik untuk capres.

"Sementara NasDem, PKS dan Demokrat, Anies Baswedan menjadi figur terbaik yang akan di usung," tuturnya.

Ia menyebutkan, PDIP sebagai pemenang pemilu 2019, dengan melihat perolehan kursi di parlemen secara matematis akan mengusung sendiri. Namun yang menjadi soal adalah apakah sosok Puan Maharani atau Ganjar yang menjadi tokoh sentral usung partai yang banteng moncong putih ini.

Menariknya Pemilu 2024 akan menjadi pertarungan gensi parpol yang selama ini bergabung di pemerintahan dengan partai oposisi saat ini.

"Namun terpenting adalah siapa figur yang kuat dan bisa diterima baik di masyarakat. Saya kira itu menjadi catatan penting," tutup dia.

Sedangkan, Direktur Profetik Institute, Asratillah menganalisis peluang koalisi 2024. Dia mengatakan bisa melihat proses pembentukan koalisi partai politik di tingkat pusat dengan menggunakan beberapa perspektfif.

Pertama, bisa memandang bahwa pembentukan koalisi-koalisi parpol tersebut sebagai bagian dari cara untuk mensiasati masa kampanye capres-cawapres yang singkat.

"Kita ketahui bahwa ada perbedaan antara Pemilu 2019 dan Pemilu 2024 dalam hal masa pencalonan capres dan masa kampanye capres," katanya.

Lanjut dia, untuk masa pencalonan capres menyediakan waktu hanya 7 hari, sedangkan untuk pemilu 2024 menyediakan waktu sekitar 38 hari. Sedangkan untuk kampanye pasangan capres/cawapres pemilu 2019 menyediakan waktu 5 bulan, sedangkan di pemilu 2024 menyediakan waktu hanya 75 hari.

Masa kampanye yang singkat ini tentunya tidak memberikan ruang yang cukup leluasa bagi bakal kandidat dan para parpol dengan jagoan pilpresnya masing-masing, untuk mensosialisasikan diri kepada publik.

  • Bagikan

Exit mobile version