Mereka Berdaya di Atas Gondola

  • Bagikan
Tim personel Celebesrope Training Center membersihkan kaca salah satu gedung bertingkat di Jakarta, beberapa waktu lalu. (dokumentasi celebesrope training center)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL - Kelihaian membersihkan kaca atau dinding bangunan tidaklah cukup untuk melakoni pekerjaan ini. Butuh tambahan nyali dan keberanian yang tinggi, karena nyawa bisa saja jadi taruhan. Buat Anda yang fobia dengan ketinggian, tidak disarankan menjalani profesi ini.

Muhammad Ruslan Zulkarnain rela meninggalkan bangku kuliah demi mengejar cita-citanya. Lelaki berusia 49 tahun ini lebih memilih menjadi seorang pemanjat tebing hingga merancang usaha di bidang pembersih kaca gedung-gedung pencakar langit.

Cullank -begitu dia disapa oleh rekan-rekannya- dulunya merupakan mahasiswa Jurusan Ekonomi di Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan. Namun, kecintaannya terhadap zona ketinggian memaksanya untuk hengkang dari kampus 'merah' di awal-awal tahun 2000-an.

Kota Bandung, Jawa Barat menjadi pelarian Cullank. Di Bumi Pasundang ini, dia bergabung ke Skygers, salah satu sekolah panjat tebing. Cullank lalu jadi atlet panjat tebing Sulawesi Selatan setelah dinyatakan lulus dari Skygers.

Tidak sekadar menyalurkan hobi panjat memanjat, tapi Cullank menerawang bawah ada masa depan pada kegemarannya itu. Maraknya proyek pembangunan pencakar langit menjadi alasan dirinya fokus melatih diri, mental, dan pengetahuan.

Jasa membersihkan gedung bertingkat itu, nantinya, akan banyak dibutuhkan di berbagai kota besar. Hanya orang-orang yang profesional yang bisa melakukanya. Dan, visi Cullank tidak meleset.

“Saya sudah melihat masa depan di dunia manjat sejak dari awal. Makanya saja ke Bandung untuk sekolah. Alasannya sederhana, orang membangun ke atas, artinya orang yang bisa mengerjakan itu, yah, harus profesional. Ditambah lagi pekerjaannya banyak, tapi orangnya sedikit. Itu yang memotivasi saya,” kata Cullank, Kamis, 1 Desember 2022.

Tanpa pekerjaan yang pasti, Cullank memulai memutar otak. Kecekatan dan keberanian memanjat di ketinggian mulai diolah. Perlahan, dia memantap diri untuk menjadikan hobinya itu sebagai ladang mencari pekerjaan. Cullank lalu bergerak ke Batam, Provinsi Kepulauan Riau untuk mendalami hobinya secara profesional.

“Dulu sempat stres mau kerja apa. Tapi perlahan saya melihat ternyata bekerja di ketinggian itu bisa dijadikan profesi. Di Batam, ada tempat belajar untuk bekerja di ketinggian namanya IRATA,” imbuh dia.

IRATA atau Industrial Rope Access Trade Association merupakan sebuah organisasi rope access pertama yang didirikan pada tahun 80-an untuk memberikan solusi dalam masalah pemeliharaan di industri oil dan gas. Di tempat ini, Cullank mengambil program rope access, yakni berupa metode aman yang digunakan oleh pekerja untuk menjangkau tempat-tempat yang sulit di ketinggian.

"Di IRATA, kami pelatihan teknis secara profesional dan mendapatkan lisensi yang bersertifikat," kata Cullank.

Lulus dari IRATA, berkat keuletan dan ketekunannya, Cullank berhasil mendirikan salah satu perusahaan, sekaligus tempat pelatihan bagi yang ingin bergelut di dunia pekerjaan pada ketinggian. Perusahaan itu diberi nama Celebesrope Training Center yang berlokasi di Kelurahan Bangkala, Kecamatan Manggala, Makassar, Sulawesi Selatan.

Di awal-awal merintis perusahaan yang didirikan, Cullank menyasar perusahaan-perusahaan yang bergerak di industri telekomunikasi dengan fokus di perawatan tiang tower. Kini, dia telah merambah ke unit bisnis termasuk pembersihan atau perawatan gedung-gedung pencakar langit.

“Kami sudah berjalan selama enam tahun,” ujar Cullank.

Menurut dia, membersihkan kaca atau dinding gedung bertingkat tidak dilakukan asal-asalan. Butuh teknik dan metode serta peralatan khusus sehingga kotoran yang menempel hilang sampai ke sela-sela jendela.

Bekerja pada ketinggian di Indonesia belum begitu familier. Selain risikonya yang tinggi, pekerjaan ini juga harus dilakukan oleh orang-orang profesional dengan pengetahuan khusus, sebab menggunakan alat bantu utama berupa tali.

Tidak jarang juga menggunakan gondola untuk memberi kenyamanan dan keselamatan bagi pekerja. Gondola biasa diisi dua orang untuk memaksimalkan pembersihan kaca pada gedung-gedung tinggi.

Pekerjaan yang dikenal dengan sistem kerja akses tali (rope access) dalam dunia kerja industri pertama kali diterapkan di Amerika dan Eropa di akhir era tahun 70-an dan terus berkembang hingga sekarang ini.

Untuk di Indonesia sendiri, akses tali mulai berkembang sekitar tahun 2007-an hingga sekarang dengan mengacu pada Peraturan Menteri Nomor 09 Tahun 2016 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Dalam pekerjaan pada ketinggian mewajibkan pada setiap pekerja atau teknisi ketinggian memiliki sertifikat dan lisensi yang telah diakui oleh negara.

Cullank mengakui, pekerjaan ini masih terbilang belum dihargai oleh masyarakat. Utamanya, para pemberi kerja seperti perusahaan-perusahaan. Padahal, pekerjaan ini memiliki risiko yang begitu tinggi.

“Ini yang jadi persoalan di Indonesia, orang belum menghargai secara baik pekerja yang bekerja dengan risiko tinggi, seperti pekerjaan kami ini yang bekerja pada ketinggian,” ucap Cullank.

Para pekerja yang bekerja di ketinggian, seperti maintenance tower, membersihkan kaca atau mengecat gedung-gedung tinggi disebut harus memiliki sertifikat Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Tenaga Kerja Pada Ketinggian (TKPK) dari Kementerian Tenaga Kerja Republik Indonesia. Metode kerja yang bisa dikata modifikasi dari olahraga panjat tebing dan caving ini juga harus menggunakan teknik khusus yang disertai peralatan standar khusus.

Untuk alat, sejauh ini, kata Cullank, masih dibeli dari luar negeri. Alasannya, produksi lokal seperti tali dan alat lainnya belum tersertifikasi alias belum standar. Menurut dia, untuk memenuhi standar safety dari Union International des Alpinisme Associations (UIAA) dan Comite Europeen de Normalisasi (CEN) membutuhkan biaya yang sangat mahal.

“Peralatan yang biasa saya pakai belum diproduksi di Indonesia. Kami masih memakai standardisasi Eropa dan Amerika. Semua peralatan dalam ketinggian itu diatur dalam standar Nasional. Alat lokal ada, tapi belum tersertifikasi dan belum melewati uji Standar Nasional Indonesia (SNI),” kata dia.

Sejak mendirikan perusahaan Celebesrope Training Center, kata Cullank, baru membersihkan beberapa bangunan di Makassar seperti Monumen Mandala di Jalan Jenderal Sudirman dan bangunan milik PT Pertamina yang berada di Pelabuhan Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM).

Kebanyakan, Tim Celebesrope mengerjakan bangunan-bangunan tinggi yang ada di DKI Jakarta. Sebab, kata Cullank, untuk pemilik gedung-gedung tinggi di Makassar dalam kesepakatan biaya pengerjaanya belum ada yang cocok.

“Kalau gedung-gedung tinggi di Makassar agak minim yang kami kerjakan karena mereka tidak punya biaya yang cukup untuk bisa mempekerjakan kami. Kami lebih banyak ke Jakarta untuk bangunan tinggi,” imbuh dia.

Di Jakarta, Celebesrope sudah menjajal ketinggian Menara Kompas Jalan Palmerah Selatan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, kantor Wali Kota Jakarta Selatan, dua Tower International Financial Centre (IFC) di kawasan Setia Budi, Jakarta Selatan, dan kampus Universitas Indonesia (UI) Salemba.

Dalam pandangan Cullank, para pemberi kerja, khususnya di Makassar, masih menilai pekerjaan tersebut sama dengan orang-orang yang bekerja pada umumnya. Seperti, membersihkan kaca masih dinilai sama pada saat dilakukan di dalam gedung. Padahal, kata dia, dari segi keselamatannya saja sudah jauh berbeda.

Selain itu, alat tambahan lain seperti tali dan alat lainnya dibeli dengan harga yang mahal. Sehingga hitungannya juga harus berbeda. Belum lagi, kata dia, orang yang melakukan itu harus memiliki sertifikat. Mulai dari pengawas atau yang dikenal dengan supervisor hingga teknisi yang langsung membersihkan.

“Sebagian perusahaan menyamakan upah orang yang bekerja di ketinggian dengan dengan orang yang membersihkan kaca sambil di lantai. Padahal itu beda. Upah paling murah untuk teknisi rope access dalam satu hari sekitar Rp400 ribu per orang. Itu khusus gaji, belum termasuk ongkos makan dan minum,” imbuh Cullank.

Menurut dia, orang-orang yang bekerja di ketinggian seperti mengecat atau membersihkan kaca itu ada levelnya. Misalnya, teknisi level satu yang tugasnya bergelantungan membersihkan kaca gedung tinggi. Lalu, ada level dua yang disebut supervisor yang bertugas melakukan rescue pada saat teknisi tiba-tiba mengalami kecelakaan dalam bekerja.

Selanjutnya, supervisor level tiga yang melakukan pengawasan terhadap seluruh peralatan dan perlengkapan yang akan digunakan dalam beroperasi. Menurut Cullank, orang yang bertugas di sektor ini merupakan inti dari seluruh rangkaian pekerjaan. Supervisor level tiga harus memastikan seluruh perlengkapan yang digunakan dalam kondisi aman dan dijamin tidak mengalami kendala saat beroperasi.

“Jadi hal-hal seperti ini yang kadang belum diketahui dan dimengerti oleh pihak perusahaan,” ujar dia.

Penerapan standar operasional prosedur (SOP) dalam bekerja di ketinggian juga disebut memiliki banyak manfaat. Salah satunya adalah meminimalisasi adanya risiko kecelakaan. Untuk di Indonesia sejak dari tahun 2008 hingga tahun 2021 hanya ada tiga kejadian. Itupun, kata Cullank, dikarenakan pekerjanya tidak memiliki sertifikasi dalam bidang pekerjaan di ketinggian.

Cullank berharap pekerjaan ini tidak dipandang sebelah mata, utamanya pada para pemberi kerja sebab memiliki risiko yang besar juga biaya yang sangat besar khususnya pada peralatan.

“Pihak pemberi kerja, para teknisi, para perusahaan pemberi jasa bisa saling berkolaborasi secara baik sehingga bentuk pekerjaan di ketinggian bisa dilakukan dengan SOP yang ada dan tidak terjadi kecelakaan kerja,” imbuh dia.

Tak Gusar Berkat BPJamsostek

Secara umum, berdasarkan data dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan mencatat, jumlah kecelakaan kerja di Indonesia sebanyak 234.270 kasus pada 2021. Jumlah tersebut naik 5,65 persen dari tahun sebelumnya yang sebesar 221.740 kasus.

Masih menurut data BPJamsostek, jumlah kasus kecelakaan kerja di Indonesia terus tumbuh dalam lima tahun terakhir. Sejak 2017, jumlah kecelakaan kerja tercatat sebanyak 123.040 kasus. Jumlahnya naik 40,94 persen menjadi 173.415 kasus pada 2018.

Setahun setelahnya, kecelakan kerja kembali meningkat 5,43 persen menjadi 182.835 kasus.
Kecelakaan kerja di dalam negeri meningkat 21,28 persen menjadi 221.740 kasus pada 2020. Angkanya pun kembali mengalami peningkatan pada tahun lalu. Menurut BPJS Ketenagakerjaan, mayoritas kecelakaan tersebut dialami di lokasi kerja.

Atas berbagai kecelakaan kerja tersebut, BPJS Ketenagakerjaan telah mengeluarkan Rp1,79 triliun untuk membayar klaim pada 2021. Jumlah itu mengalami kenaikan 14,97 persen dibandingkan pada tahun sebelumnya yang sebesar Rp1,56 triliun.

Di Sulawesi Selatan, jaminan perlindungan bagi para pekerja di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) masih terus bersoal. Jumlah pekerja yang tercatat memiliki BPJamsostek masih tergolong rendah.

Data yang dirilis oleh Asisten Deputi Bidang Kepesertaan Kantor Wilayah Sulawesi Maluku BPJamsostek, Alias AM menyatakan kepesertaan BPJS Tenagakerja masih di angka 40 persen.

"Jumlah itu masih jauh dari target sasaran BPJamsostek di Sulsel," kata mantan Kepala Cabang BPJamsostek Maluku itu saat menghadiri rapat percepatan kepesertaan perlindungan sosial ketenagakerjaan masyarakat pekerja di Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, Senin (21/11/2022).

Menurut Alias, di Sulsel, pihaknya menyasar sekitar 2,8 juta pekerja, tapi baru terealisasi sekitar 1,1 juta yang terdaftar dalam program BPJamsostek. Melalui rapat tim percepatan itu, pihaknya menekankan ingin mendorong kepesertaan pekerja di Sulsel berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2021 tentang Optimalisasi Penyelenggaraan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan.

BPJamsostek berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan untuk mendorong percepatan perlindungan jaminan sosial tenaga kerja. Tak hanya menyasar pekerja kantor, BPJamsostek juga menyasar pekerja rentan di antaranya pekerjaan keagaamaan seperti marbut masjid, guru mengaji, imam masjid, dan pekerja di tempat ibadah lainnya.

Adapun, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sulsel, Ardiles Saggaf, mengatakan kepesertaan BPJamsostek di Sulsel bisa tumbuh sampai 11 persen atau menjadi 50 persen pada 2023. Menurut Ardiles, kepesertaan yang masih rendah tersebut terkendala pada komunikasi dan koordinasi.

"Kami mendorong pemerintah kabupaten dan kota untuk memacu kepesertaan BPJamsostek di daerah masing-masing," ujar dia.

Pekerja yang melakoni profesi sebagai pembersih kaca gedung-gedung bertingkat memang memiliki risiko yang tinggi. Taruhannya adalah nyawa.

Hal inilah yang disadari betul oleh Cullank saat pertama kali mendirikan Celebesrope Training Center di Makassar. Menurut dia, para pekerja dengan risiko tidak hanya mengutamakan standardisasi kompetensi pekerja dan peralatan yang digunakan.

"Tapi, kami juga memprioritaskan adanya jaminan keselamatan tenaga kerja," kata Cullank.

Dia mengatakan, jaminan keselamatan kerja yang dimaksudkan adalah seluruh anggota tim harus dilengkapi dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan atau BPJamsostek. Cullank memastikan, seluruh personel Celebesrope telah mengantongi kartu BPJamsostek.

"Bahkan, tim kami juga terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan," tegas Cullank.

Ayah enam orang anak itu mengatakan, pihaknya ingin memastikan seluruh personel di Celebesrope melakoni pekerjaannya tanpa beban sama sekali. Khususnya, beban psikologis. Dengan mengantongi kartu BPJamsostek, kecemasan dan rasa waswas untuk bekerja dapat diminimalisasi.

"Taruhan pekerjaan kami adalah nyawa. Terus terang kami tidak mau mati konyol. Prioritas kami adalah kami bekerja aman, nyaman, dan tidak merasa cemas," imbuh Cullank.

Terpenting, kata dia, kepemilikan BPJamsostek telah menjadi back up bagi Tim Celebesrope. Seandainya pun terjadi insiden, maka sudah ada pelindung dan jaring pengaman untuk kebutuhan perawatan dan masa depan keluarga mereka.

"Adanya BPJamsostek, telah memberi ketenangan bagi anak dan istri para anggota kami. Tapi, alhamdulillah sejauh ini, kami tak menemui kendala berarti karena memang menerapkan standardisasi yang tinggi dalam bekerja," ujar dia.

Menurut dia, kepesertaan dalam BPJamsostek menjadi prioritas bagi dirinya untuk merekrut personel. Salah satu syarat perusahaan yang punya sertifikat K3 dari Kementerian Tenaga Kerja yakni menjamin seluruh personelnya mengantongi kartu BPJamsostek.

"Kami sadar bahwa ancaman kecelakaan selalu mengintai. Tanpa jaminan perlindungan, personel kami akan menghadapi beban psikologi saat bekerja. Dengan BPJamsostek, anggota tim kami makin punya kepercayaan diri yang kuat saat berada di ketinggian," ujar Cullank.

BPJamsostek telah mengubah mental Cullank dan anggotanya tak tegang kala bekerja. Saat bergelantungan dengan seulas tali maupun bertengger di atas gondola, nyali mereka makin berdaya. Perasaan anak, istri, dan keluarga di rumah tidak gelisah . (*)

PENULIS: ABDUL RAHMAN

  • Bagikan

Exit mobile version