Kada Gerus Basis Petahana

  • Bagikan
karikatur/rambo

MAKASSAR, RAKYATSULSEL - Legislator Dewan Perwakilan Rakyat asal Sulawesi Selatan patut waspada kepada kepala daerah yang akan maju pada Pemilihan Legislatif 2024. Basis suara pada Pileg 2019, bisa jadi akan tergerus dan digerogoti oleh para pendatang baru.

Sejumlah kepala daerah (kada) yang tahun ini akan berakhir masa jabatan telah memastikan diri akan ikut dalam pemilihan anggota DPR RI. Tak ayal, kehadiran mereka meramaikan kontestasi lima tahunan itu menjadi ancaman serius, khususnya bagi para legislator petahana.

Pengamat politik dari Universitas Hasanuddin, Sukri Tamma mengatakan, fenomena kepala daerah yang punya animo dala pemilihan legislatif akan menambah membuat persaingan makin memanas. Apalagi, kata dia, nama - nama yang mulai mencuat ke publik merupakan kepala daerah yang telah dua periode menjabat.

"Artinya, basis massa mereka jelas dan cukup kuat," kata Sukri, Selasa (7/2/2023).

Sukri mengatakan, langkah politik kepala daerah untuk menembus Senayan adalah pilihan realistis. Kuota kursi DPR RI tersedia cukup banyak di setiap daerah pemilihan sehingga kepala daerah potensial punya peluang besar terpilih.

"Dan predikat sebagai legislator khususnya di tingkat pusat cenderung dilihat sebagai posisi naik kelas," imbuh Sukri.

Di sisi lain, lanjut Sukri, upaya kepala daerah bertarung menuju DPR RI merupakan langkah menjaga karier di dunia politik. Selain itu, mereka akan punya bargaining untuk berada di kancah perpolitikan nasional. Dengan demikian, para kepala daerah tersebut akan berupaya semaksimal mungkin untuk mendulang suara. Apalagi telah memiliki modal sosial kepada masyarakat ketika menjabat bupati atau wali kota.

"Maka dapat diasumsikan mereka memiliki dukungan kuat, paling tidak di wilayah adminstratif pemerintahannya saat ini," tutur Sukri.

Peluang kepala daerah untuk terpilih menjadi legisaltir DPR RI sangat besar. Apalagi, kata Sukti, bila kepala daerah bersangkutan punya investasi sosial dan dianggap berhasil memimpin daerah selama menjabat.

Dengan menunjukkan kinerja yang baik di tengah masyarakat, praktis ikut memperkuat posisi elektoralnya, juga berdampak pada peta persaingan nantinya. Sehingga ketika mereka pindah ruang kontestasi, masyarakat tentu masih akan mengingat keberhasilannya.

"Hal inilah yang akan cukup mengancam para petahana di legislatif saat para kepala daerah menyatakan diri akan maju," ujar Sukri.

Nama-nama kepala daerah yang akan maju sebagai anggota DPR RI, hampir merata di semua daerah pemilihan di Sulawesi Selatan.

Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Suharto mengatakan, hajatan para kepala daerah yang akan meramaikan bursa Pileg 2024 menjadi tren sebagai salah satu strategi partai politik menghadapi pemilu untuk meraup suara sebanyak mungkin. Itu sebabnya, kata Suharto, petahana saat ini memang patut hati-hati karena kehadiran kepala daerah tersebut berpotensi mengggangu.

"Bila ingin tetap melenggang ke Senayan, para petahana itu harus terus merawat konstituen dan rajin berada di tengah-tengah mereka," ujar Suharto.

Manager Strategi dan Operasional Jaringan Suara Indonesia (JSI), Nursandy Syam mengatakan, figur kepala daerah di Pileg DPR RI memiliki keistimewaan tersendiri dalam menatap kontestasi politik 2024. Menurut dia,
kehadiran figur-figur berstatus mantan kepala daerah praktis mempersengit iklim kompetisi di daerah pemilihan.
Bahkan keberadaan para mantan kepala daerah, bisa berefek ganda. "Pertama, bisa membantu menjaga atau menaikkan perolehan kursi partai. Kedua, berpotensi memutus dominasi caleg petahana," imbuh dia.

Meski demikian, kata Nursandy, figur kepala daerah di Pileg nanti tidak menjadi jaminan untuk terpilih. "Tapi dengan modal politik seperti itu, bisa lebih mendekatkan diri pada keterpilihan," sambungnya.

Direktur Indeks Politika Indonesia (IPI) Suwadi Idris Amir mengatakan, petahana anggota DPR RI memang akan kerja keras bila lawan internal maupun eksternal partai berasal dari kalangan mantan kepala daerah.

"Di Golkar, Bupati Jeneponto dan Bupati Selayar akan sangat mengganggu Hamka B. Kady. Adnan Purichta jika maju caleg tentu akan ganggu petahana. Syamsari Kitta pun akan mengganggu figur-figur yang selama ini menjadikan Takalar sebagai basis suara," imbuh dia.

Direktur Riset dan Data Lembaga Insert Institute Reskiyanti menilai semua kandidat punya peluang yang sama selama personal branding masing-masing kandidat dikemas bagus di mata calon pemilih.

"Dan juga kerja-kerja tim yang optimal. Kelebihan dari para mantan kepala daerah karena punya modal kapital yang lebih dari petahana," ujar Reskiyanti.

Menurutnya, tidak ada spesifik yang harus dilakukan oleh kepala daerah dalam menghadapi Pileg 2024. Alasannya, para kepala daerah sudah tahu persis hal yang harus dilakukan untuk di dapil, khususnya di daerah yang pernah dipimpin.

Sementara itu, anggota DPR, Hamka Baso Kady menyatakan pihaknya terus melakukan upaya untuk membantu masyarakat, khususnya di daerah pemilihan.

"Mohon doa saja agar ke depan bisa lebih baik. Intinya, kami ingin berbuat yang terbaik bagi masyarakat, sehingga bisa melakukan apa kami bisa perjuangkan," singkat politikus Partai Golkar itu.

Adapun Supriansa mengaku tak punya strategi khusus maupun program menyambut Pileg 2024. "Yang punya program itu legislatif. Kami hanya mengawasi dan turun ke lapangan sama-sama sebagai mitra kerja," ujar Supriansa.

"Strategi terbaik adalah doa restu dan dukungan masyarakat di dapil saya, khususnya Kabupaten Soppeng," sambung anggota Komisi III, DPR RI tersebut.

Legislator DPR asal Partai Amanat Nasional Ashabul Kahfi menyatakan siap untuk kembali bertarung di DPR.
"Kalau ada peluang, kenapa tidak? Waktu penyetor DCT masih lama. Kami selesaikan tugas sekarang lebih dulu," kata Kahfi.

Ketua Komisi VIII DPR itu menyebutlan tidak memiliki program spesifik sebagai strategi untuk terpilih kembali.
"Kalau selama ini kami jaga dan rawat konstituen, maka mereka juga akan mengingat. Itu yang saya lakukan saat ini," imbuh dia.

Adapun, Aliyah Mustika Ilham tak mau mengomentari banyak mengenai kesiapannya maju kembali ke DPR. Menurut dia, saat ini hanya mengikuti arahan partai. Jikalau kedepan masih dipercayakan maka akan terus memperhatikan masyarakat di dapilnya.

"Pada intinya apa yang masyarakat di dapil sampaikan lewat aspirasi, itu yang kami lakukan dan berikan dalam bentuk bantuan," ujar politikus Partai Demokrat tersebut.

Sementara, Andi Iwan Darmawan Aras mengakui dirinya kembali maju bertarung di Dapil II. Da optimistis bisa terpilih kembali karena selama ini rutin mengawal aspirasi masyarakat seperti proyek kereta api dan berbagai pembangunan infrastruktur di Sulsel.

"Persoalan strategi kami itu tidak bisa disampaikan. Selama ini kami sudah melakukan dan mengawal pemerintah pusat hingga daerah untuk menjalankan semua programmnya," imbuh ketua Partai Gerindra Sulsel itu.

Ketua DPD Gerindra Sulsel itu meyakini bahwa masyarakat Sulsel sudah cerdas dalam menetukan pilihan. Oleh sebab itu tidak bisa dibeli suara dengan retorika. "Saya bertekad melanjutkan program yang belum tuntas untuk terus kami perjuangkan," ujar dia. (Suryadi/B)

  • Bagikan