Petani Ogah Jual Beras Ke Bulog

  • Bagikan
Petani di Kabupaten Gowa Memanen Padi. (A/Indra)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL - Sejumlah daerah di Indonesia sudah mulai memasuki musim panen raya. Salah satunya di Sulawesi Selatan (Sulsel). Hanya saja, para petani enggan untuk melakukan penjualan padi ke pihak Bolug.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura & Perkebunan (TPH-Bun) Sulsel, Imran Jauzi mengakui hal tersebut. "Di lapangan banyak masyarakat yang menyimpan berasnya, tidak dijual ke Bulog, sehingga stok di Bulog itu rendah," sebutnya.

Menurutnya, harga yang ditawarkan pihak Bulog cukup rendah sehingga menjadi pertimbangan para petani untuk menjual hasil tani mereka ke Bulog.

Meski demikian, ia berharap para petani untuk menjual gabah miliknya ke Bulog. Pasalnya, kata dia, akhir-akhir ini ketersediaan beras dengan harga murah di pasaran semakin menipis, apalagi permintaan juga meningkat mengingat sebentar lagi bulan Ramadan.

Ia menjelaskan, panen raya di Sulawesi Selatan diproyeksikan akan berlangsung sampai pada bulan April mendatang yang tentu daerah penghasil beras diharapkan dapat menyuplai kebutuhan beras daerah lainnya.

Pun dengan kenaikan harga ia menuturkan hal itu merupakan hukum ekonomi dipasaran dan memang pada bulan sebelumnya upaya untuk menyediakan pasokan beras itu terbatas karena musim panen baru saja dimulai pada bulan ini.

"Bulan Maret kan panen raya, bulan kemarin itu memang mahal karena itu fenomena pasar biasa karena pertama beras kurang, permintaan tinggi pasti harganya juga naik," sebutnya.

Untuk itu sambung Imran Jauzi, para petani seyogyanya menjual berasnya ke pihak Bulog agar pasokan tetap stabil dan harga pun dapat terkontrol. "Jadi kami minta ke petani tolonglah arahkan berasnya ke Bulog, sebagian di swasta juga dan sebagian disimpan," pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Perum Bulog Kanwil Sulselbar Bakhtiar, menyampaikan bahwa meski beberapa petani di Sulsel enggan menjual beras hasil panen mereka ke pihaknya, ia mengatakan ketersedaian pasokan beras menuju Ramadan masih aman.

"Jadi gini alhamdulillah kalau dari sisi stok sih memang ada penurunan tapi insya Allah itu masih cukup untuk persiapan menuju Ramadan," ucapnya, Rabu (15/3/2023).

Ia melanjutkan, meski mengalami penuruan pasokan, saat ini pihaknya tengah genjar melakukan penyerapan stok di kalangan petani. "Kami (bulog) sedang proses penyerapan stok beras, itu sementara berjalan. Jadi memasuki musim panen, kami sudah mulai membeli beras-beras itu agar bisa mencukupi atau bahkan bisa lebih," ungkapnya.

Bakhtiar memaparkan, pun dengan harga beli pada kalangan petani yang sempat dikeluhkan, pemerintah telah mengeluarkan perubahan harga beli menjadi Rp 9.950. "Nah dengan harga ini diharapkan memang kita bisa memperoleh beras yang banyak," sebutnya.

Bakhtiar juga tak menyalahkan para petani yang sebelumnya tidak ingin menjual beras mereka ke pihaknya. "Jadi jika petani ingin menjual dengan harga yang tinggi, itu tidak masalah," tegasnya.

"Bulog sendiri merupakan wadah stabilisasi harga jadi pada saat pemerintah menetapkan harga atau harga beras naik, Bulog akan hadir dengan melakukan program seperti pasar murah sebagai stabilisasi stok," pungkasnya. (abu/B)

  • Bagikan