Lebih dari itu, Mimi ingin menyampaikan prinsip hidup masyarakat Bugis agar tetap dipegang teguh dalam menjalani kehidupan. Beberapa petuah yang disematkan dalam sarungnya antara lain siri' na pacce, yang berarti menjaga harga diri dan kehormatan, serta mali' siparappe, tallang sipahua, yang mengajarkan untuk saling menolong di saat kesulitan.
"Saat ini, banyak orang yang tidak mengenal bahasa lontara. Dengan hadirnya sarung ini, saya berharap tidak hanya dikenakan, tetapi juga bisa mengedukasi masyarakat tentang aksara lontara khas Bugis-Makassar," jelasnya.
Berkat keunikan produknya, Mimi mampu menembus pasar dan menjual hingga 5.000 sarung per hari, terutama saat Ramadan dan Idulfitri. Kini, penjualan sarung bercorak lontara miliknya telah merambah berbagai wilayah di Sulawesi dan Kalimantan.
Tingginya minat masyarakat membuat Mimi mampu mempekerjakan mahasiswa dan ibu rumah tangga di sekitarnya. Ia mengungkapkan bahwa selama Ramadan, mayoritas pembelian dilakukan secara online dengan sistem pembayaran transfer menggunakan BRImo atau QRIS BRI, yang sangat memudahkannya.
"Harga sarung saya Rp99.000, dan kadang sulit mencari uang kembalian. Dengan menggunakan sistem transfer atau QRIS BRI, semuanya jadi lebih mudah," ungkapnya.
Mimi memilih menggunakan BRI karena mayoritas pelanggannya juga menggunakan bank tersebut, sehingga transaksi menjadi lebih praktis.