“Pelaku Selalu Menghindar dan Tolak Berbaur dengan Keluarga”

  • Bagikan
BERDOA. Pihak keluarga melakukan doa bersama di kuburan Jumatia, 35 tahun, yang telah dimakamkan secara layak di Tempat Pemakaman Umum (TPU) di Kecamatan Rappocini.

MAKASSAR, RAKYATSULSEL - Kasmi, kakak kandung Jumatia, 35 tahun, ibu rumah tangga (IRT) yang dibunuh suaminya lalu dikubur di dalam rumah di Jalan Kandea Dua, Kelurahan Bontoala Tua, Kecamatan Bontoala, Kota Makassar, mengaku sejak dulu mulai curiga atas sikap pelaku yang selalu menghindari keluarganya.

Kasmi menceritakan selama ini saudaranya atau korban dikabarkan menghilang dan pergi bersama pria lain. Hal tersebut berdasrkan pengakuan pelaku atau suami Jumatia bernama Hengky (43) setiap kali ditanya mengenai keberadaan Jumatia.

Bahkan mendapatkan kabar Jumatia menghilang, pihak keluarga disebut juga mencoba mencari dengan menyebarkan foto-foto korban di media sosial. Namun hasilnya nihil hingga berhasil terungkap, Minggu (14/4/2024), bila saudaranya ternyata tidak hilang melainkan dibunuh.

"Saya terakhir komunikasi dengan (Jumatia) pada 2017. Kami mencari dengan menyebarkan fotonya di mana-mana," kata Kasmi saat diwawancara di Jalan Kandea Dua, Rabu (17/4/2024).

Kasmi menuturkan, selama Jumatia dan Hengky menikah, kabar penganiayaan atau KDRT memang kerap didapat pihak keluarga. Namun, Jumatia tidak pernah mau mengaku demi menuntut aib suaminya di mata keluarga besarnya.

"Tidak pernah curhat. Jumatia sabar sekali, tidak mungkin juga punya hubungan dengan orang lain, dia sayang sekali anaknya. Dia juga kalau sudah dipukul langsung datang ke rumah tapi tidak pernah cerita, datang saja bermalam. Tidak pernah juga memperlihatkan luka-lukanya," tutur Kasmi.

Karena sering mendapat kabar saudara dan keponakannya diperlakukan kasar oleh Hengky, Kasmi mengatakan pihak keluarganya sempat curiga dan mempertanyakan kepada Hengky keberadaan Jumatia.

"Dari ringan tangan itu kita curiga memang. Kalau ketemu juga (Hengky) menghindar, takut ditanya. Tidak mau lagi berbaur dengan kita. Pernah kita tanyakan tapi dia langsung bilang, tegaku itu, dengan ekspresi ketawa," sebutnya.

Belakangan, kelakuan bejat Hengky baru terungkap ketika putrinya berinisial VI (17) menceritakan semua peristiwa yang dilihatnya selama tinggal bersama sang ayah di rumah kelam yang menjadi tempat ibunya dikuburkan ayahnya sendiri.

"Anaknya mengaku setelah dipukul sama bapaknya. Dia datang ke rumah, saya tanya kenapa nak, dia bilang dipukul sama bapaknya, mukanya biru (lebam bekas pukulan). Saya bawa melapor ke Polrestabes langsung ditangkapmi pelaku," ucapnya.

Menurut Kasmi, dua putri pelaku enggan bercerita peristiwa kelam yang dialaminya lantaran takut sering diancam akan dianiaya. Kedua putrinya juga disebut sangat menyayangi ayahnya atau Hengky sehingga tak membongkar aibnya selama ini.

"Dia tidak berani bilang karena takut. Dia takut bilang tidak ada yang pelihara ka (nafkahi) dia kasihan sama bapaknya," jelas Kasmi.
Meski begitu, pihak keluarga Jumatia berharap agar Hengky dapat mendapatkan hukuman berat untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

"Kalau kita dari keluarga hukuman mati saja, kasihan juga anaknya. Kita takut nanti dia (pelaku) dendam sama anaknya. Itu pertimbangan untuk anak, untuk kita juga keluarga," pungkasnya.

Sementara kuasa hukum Jumatia, Ahmad Zulfikar mengatakan, korban merupakan istri ketiga, sebelumnya pelaku juga menikah dengan dua orang tapi berpisah tanpa bercerai. Dari pernikahan pertama, pelaku memiliki dua orang anak dan istri kedua satu anak.

Zulfikar mengatakan, berdasarkan informasi dari pihak keluarga korban bahwa sempat ada keluarga dari mantan istri kedua pelaku mencari keberadaan kerabatnya itu. Namun jawaban yang disampaikan pelaku juga sama, bahwa istri keduanya itu kabur bersama laki-laki lain. Sehingga ia menduga istri kedua pelaku juga mengalami hal yang sama dengan kliennya.

"Kami dari kuasa hukum hanya mendapatkan informasi dari salah satu korban yaitu ponakannya dan ada beberapa pihak keluarga korban juga mendapatkan info tersebut," ucap Zulfikar.

Hanya saja, Zulfikar mengaku akan memastikan lagi kabar tersebut dari mana keluarga korban memperoleh informasi tersebut.

"Tapi kami mau memastikan di mana dia mendapatkan informasi terkait istri kedua pernah juga dicari oleh keluarganya dengan alasan pergi juga dengan laki-laki lain," ujarnya.

Olehnya itu, lanjut Zulfikar, pihaknya akan mengkoordinasikan kepada Kapolrestabes Makassar untuk segera mengidentifikasi siapa mantan istrinya yang pertama dan yang kedua pelaku.

"Ini sementara kami koordinasikan dengan pihak Polrestabes Makassar bersama Tim Jatanras untuk segera mengidentifikasi dan mengungkap terkait identitas istri pertama dan kedua termasuk alamat dan keberadaanya agar tidak simpang siur," sebutnya.

Sekadar diketahui, masyarakat Makassar sempat digemparkan dengan penemuan kerangka manusia yang ditimbun dalam sebuah rumah di Jalan Kandea Dua, Kelurahan Bontoala Tua, Kecamatan Bontoala, Kota Makassar, Minggu (14/4/2024) pagi.

Kerangka manusia yang berdasarkan informasi merupakan wanita berinisial J itu dikubur di halaman belakang sebuah rumah di kawasan padat penduduk selama 6 tahun.

Hasil penyelidikan, J ternyata korban pembunuhan yang pelakunya sendiri merupakan sang suami bernama Hengky dan kini sudah diamankan di Mapolrestabes Makassar untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Di hadapan polisi, Hengky mengaku nekat menghabisi nyawa istrinya sendiri lantaran terbakar api cemburu. Pelaku marah mengetahui sang istri pernah bertemu dengan mantan kekasihnya.

"Saya curigai ketemu sama mantan pacarnya di Lorong 1, saya tanya tapi dia tidak mau mengaku," kata Hengky. (isak pasa'buan/C)

  • Bagikan

Exit mobile version