Poniam Raih Gelar Doktor di UIN Alauddin, Angkat Moderasi Beragama di SMP Negeri 2 Sambas

  • Bagikan
Wakil Direktur Pascasarjana UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. Hasyim Haddade, didampingi jajaran promotor dan penguji saat memimpin jalannya sidang promosi doktor Poniam di Kampus UIN Alauddin, Kamis (16/4/2026).

MAKASSAR, RAKYATSULSEL,CO - Program Pascasarjana UIN Alauddin Makassar kembali mencatatkan capaian akademik melalui pelaksanaan ujian promosi doktor pada Kamis, 16 April 2026. 

Pada kesempatan tersebut, Poniam tampil mempertahankan disertasinya dalam bidang Pendidikan dan Keguruan, menandai tahap akhir perjalanan akademik pada jenjang doktoral di lingkungan kampus tersebut.

Sidang promosi dipimpin oleh Wakil Direktur Pascasarjana, Prof. Dr. H. Hasyim Haddade, S.Ag., M.Ag., yang juga bertindak sebagai promotor. Ia didampingi oleh Dr. Hj. Yuspiani, M.Pd., dan Dr. Purniadi Putra, M.Pd.I., sebagai kopromotor. 

Ujian tersebut turut menghadirkan tim penguji yang terdiri dari Prof. H. Hamdan Juhannis, M.A., Ph.D., Dr. H. Abdul Rahman Sakka, Lc., M.Pd.I., serta Dr. Hipza, M.Si.

Dalam disertasinya, Poniam mengangkat tema Pendidikan Agama Islam berbasis moderasi beragama di SMP Negeri 2 Sambas, yang berada di wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia. 

Kajian ini dilatarbelakangi oleh derasnya arus digital serta dinamika keberagaman yang berpotensi memengaruhi cara pandang peserta didik terhadap ajaran agama, sehingga diperlukan pendekatan pendidikan yang mampu menanamkan nilai keagamaan yang inklusif dan tidak ekstrem.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode penelitian lapangan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui tahapan reduksi, penyajian, hingga penarikan kesimpulan, dengan penguatan pada teknik triangulasi untuk memastikan validitas data.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan Pendidikan Agama Islam berbasis moderasi beragama telah terintegrasi dalam visi dan misi sekolah yang menekankan nilai religiusitas, komitmen kebangsaan, serta pembentukan akhlak mulia. Nilai-nilai moderasi juga diinternalisasikan dalam kurikulum dan tata tertib sekolah yang bersifat edukatif dan inklusif.

Pada tahap implementasi, nilai tersebut diwujudkan melalui proses pembelajaran di kelas serta berbagai kegiatan pembiasaan, seperti kajian keagamaan dan program infaq Jumat, yang mendorong tumbuhnya empati, solidaritas sosial, serta sikap menghargai keberagaman. 

Pendekatan ini turut memperkuat identitas kebangsaan peserta didik melalui praktik keagamaan yang inklusif dan berorientasi pada nilai rahmatan lil alamin.

Namun demikian, penelitian ini juga menemukan sejumlah tantangan, terutama terkait pengaruh konten digital yang tidak moderat serta masih rendahnya literasi digital keagamaan di kalangan peserta didik. Kondisi ini menjadi perhatian penting dalam upaya memperkuat pendidikan berbasis moderasi beragama di era digital.

Temuan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan Pendidikan Agama Islam berbasis moderasi beragama membutuhkan sinergi antara kebijakan sekolah, penguatan kurikulum, serta pembiasaan budaya religius yang inklusif. 

Selain itu, diperlukan kolaborasi antara sekolah, guru, dan orang tua dalam membangun ekosistem pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan zaman, sekaligus mampu membentuk karakter peserta didik yang moderat, toleran, dan berkomitmen terhadap nilai-nilai kebangsaan. (Emi)

  • Bagikan

Exit mobile version

Install aplikasi RakyatSulsel untuk mendapatkan berita terbaru.