8 Kampung Adat di Banda Gelar Ritual Buka Kampung

  • Bagikan
Penyambutan KRI Dewa Ruci, di Banda yang membawa rombongan Muhibah Jalur Rempah

BANDA, RAKYATSULSEL - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan Riset, dan Teknologi melalui Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat adat melalui ritual Buka Kampung.

Ritual ini dilaksanakan oleh 8 kampung adat di Banda sejak tanggal 12 hingga 20 Juni 2022. Ritual ini untuk menyambut datangnya KRI Dewa Ruci yang membawa Muhibah Jalur Rempah.

“Buka Kampung merupakan sebuah ritual yang dilakukan oleh masyarakat adat di Banda. Buka Kampung memiliki makna untuk memohon izin kepada leluhur ketika akan melakukan upacara adat atau kegiatan yang besar,” ujar Usman, Ketua Adat Lonthoir.

Ritual buka kampung kali ini dilakukan oleh Kampung Adat Namasawar, Kampung Adat Lonthoir, Kampung Adat Salamon, Kampung Adat Waer, Kampung Adat Pulau Ai, Kampung Adat Pulau Hatta, Kampung Adat Kampung Baru dan Kampung Adat Ratu (Dwi Warna).

Rangkaian prosesi ritual Buka Kampung ini dimeriahkan oleh Tarian Cakalele dan Belang Adat, keduanya memiliki nilai historis tentang peperangan namun kini ditampilkan sebagai tarian dan kegiatan penyambutan.

Tari Cakalele dan Belang Adat yang biasanya hanya ditampilkan sebagai bagian dari prosesi ritual buka kampung ini juga memberikan makna untuk tetap gigih dalam berjuang dan berkorban untuk Bangsa Indonesia.

Direktur Kepercayaan terhadap Tuhan YME dan Masyarakat Adat, Sjamsul Hadi menuturkan bahwa ritual buka kampung merupakan identitas bagi masyarakat adat Banda. Ritual adat ini menjadi penuntun bagi masyarakat Banda dalam menjaga hubungan antara alam, sesama manusia, leluhur, dan Tuhannya, ke depannya semoga generasi muda di Banda Neira dapat terus menjaga dan melestarikan tradisi ini.

“Buka Kampung juga menjadi salah satu ritual yang masuk dalam rangkaian ruwatan nusantara yang perwakilan tokoh adatnya akan diundang saat gelaran G20 bidang kebudayaan bulan September. Melalui buka kampung kita dituntun untuk membersihkan hati dan menjaga hubungan dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan dan niscaya akan membawa kehidupan yang berkelanjutan,” pungkas Sjamsul. (*)

  • Bagikan