"Indonesia memiliki ribuan spesies tanaman obat yang dapat dikembangkan menjadi fitofarmaka berkualitas tinggi. Dengan dukungan regulasi yang kuat, riset berbasis sains, serta peningkatan standar produksi, kita dapat menjadikan kekayaan alam Indonesia sebagai sumber inovasi dalam dunia kesehatan," tambahnya.
Sementara itu, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyambut baik inisiatif ini dan menegaskan komitmen Kementerian Pertanian dalam menyediakan bahan baku herbal yang berkualitas melalui sistem pertanian yang berkelanjutan.
"Kementerian Pertanian akan terus bekerja sama dengan BPOM dalam menerapkan standar keamanan pangan yang lebih ketat, termasuk dalam penggunaan pestisida, bahan tambahan pangan, serta sistem sertifikasi yang lebih transparan. Selain itu, kami juga siap mendukung budidaya tanaman obat dengan standar pertanian yang baik agar dapat digunakan sebagai bahan baku obat fitofarmaka berkualitas tinggi," ujar Amran Sulaiman.
Beberapa poin utama yang dibahas dalam pertemuan ini meliputi:
- Penguatan regulasi keamanan pangan, termasuk standar penggunaan bahan tambahan pangan dan pestisida.
- Peningkatan kapasitas pengawasan dan edukasi, khususnya bagi petani dan pelaku usaha pangan.
- Pengembangan industri fitofarmaka, dengan memastikan bahan baku herbal Indonesia memenuhi standar internasional.
- Pemanfaatan teknologi dalam pemantauan pangan, termasuk digitalisasi dalam sistem distribusi dan sertifikasi.
Diharapkan, kerja sama ini dapat semakin memperkuat ketahanan pangan nasional serta mendorong industri fitofarmaka Indonesia agar dapat berkembang lebih pesat, baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor.
"Apalagi, kerja sama ini juga mendukung UMKM yang menjadi perhatian Bapak Presiden Prabowo Subianto," pungkas Taruna Ikrar. (*)