Gelar Kelas Prebunking, Mafindo Makassar Gandeng KPU Tangkal Penyebaran Hoax di Tahun Politik

  • Bagikan
Para peserta Kelas Prebunking berfoto bersama dengan komisioner KPU Kota Makassar, di Aula Kantor KPU Makassar, Kamis (14/9/2023). (Foto: Fahrullah)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL - Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Presiden 2024 mendatang berpotensi terjadinya penyebaran hoax, membuat Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Kota Makassar menggandeng Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Makassar dengan melakukan Kelas Prebunking, di Aula Kantor KPU Makassar, Kamis (14/9/2023).

Prebunking adalah proses membongkar kebohongan, taktik, atau sumber sebelum informasi keliru menyerang. Sedangkan Debunking merupakan kerja pemeriksa fakta yang langsung menyajikan faktanya kepada pembaca.

Ketua KPU Kota Makassar, Farid Wajdi Mengapresiasi Mafindo Makassar karena telah mengajak KPU Makassar bekerjasama dalam menyelenggarakan Kelas Prebunking yang sangat penting khususnya di momen Pemilu 2024 ini.

Karena setiap penyelenggaraan Pemilu, selalu ada celah bagi hoaks politik menyebar ke ruang digital, dan menjadi ancaman bagi demokrasi. Salah satu entitas yang sering menjadi bahan narasi hoaks adalah penyelenggara baik KPU maupun Bawaslu.

"Serapi apa pun dan setransparan apa pun desain Pemilu yang kami lakukan pasti selalu akan muncul tuduhan KPU dan Bawaslu curang. Apa pun hasil pemilunya kesimpulannya hanya satu KPU dan Bawaslu curang," katanya.

Farid menyadari jika ada banyak fakta mengenai Pemilu yang membutuhkan penjelasan detail dari KPU agar masyarakat tidak termakan hoaks yang saat ini sudah banyak muncul ke permukaan, agar para penyelenggara dapat mengendalikan informasi valid untuk menambah wawasan masyarakat mengenai kepemiluan. Hanya dengan cara ini, masyarakat bisa kebal terhadap serangan hoaks.

"Kita menginginkan penyelenggaraan Pemilu tidak menjadi mitos. Kita menginginkan penyelenggaraan Pemilu sebagai sebuah fakta. Itulah mengapa kita perlu mengendalikan informasi karena banyak peristiwa Pemilu yang perlu penjelasan cukup. Kita tidak bisa kendalikan otak dan telinga orang, tapi kita bisa mengendalikan informasi yang cukup," tegasnya. (Fahrullah/B)

  • Bagikan