Bursa Pilwali Makassar: Panggung Pendatang Baru

  • Bagikan

MAKASSAR, RAKYATSULSEL - Pemilihan wali kota dan wakil wali kota Makassar 2024 diperkirakan akan berlangsung sengit. Pertarungan akan tersaji dengan ketat karena tanpa keikutsertaan kandidat yang berstatus petahana. Tahapan belum dimulai, tapi nama kandidat sudah memenuhi bursa kontestasi.

Figur-figur lama kemungkinan akan kembali mencoba peruntungan. Sementara, pendatang baru juga mulai bermunculan. Hasil Pemilu 2024, menjadi barometer munculnya muka baru yang bisa menguasai panggung pesta lima tahunan di Kota Makassar ini.

Pilkada di Kota Makassar bakal menjadi arena terbuka bagi figur-figur yang bakal maju. Tanpa petahana, persaingan dinilai lebih terbuka dan fair. Partai politik pun mulai menimang-nimang kader. Nama-nama yang dinilai punya kans merupakan mayoritas wajah-wajah baru yang terpilih di Pemilu 2024. Pun, kontestan Pilwali 2020, juga diprediksi bakal kembali maju.

Sekretaris Partai Gerindra Sulawesi Selatan Darmawangsyah Muin mengatakan pihaknya telah menyiapkan sejumlah kader untuk maju di Kota Makassar. Dia menyatakan akan mencari kader internal untuk dicalonkan.

"Kami mengutamakan kader internal dulu untuk dicalonkan," ujar Darmawangsyah, Senin (25/3/2024).

Gerinda punya modal besar untuk menentukan figur internal. Darmawangsyah mengatakan, perolehan enam kursi di DPRD Kota Makassar sangat memudahkan untuk mencari partai untuk diajak berkoalisi. Sisa mencari empat kursi untuk memenuhi persyaratan sepuluh kursi dalam mengusung pasangan calon.

"Bergantung ke depan seperti apa komunikasi yang akan akan dibangun bersama partai lain," imbuh dia.

Wakil Ketua Gerindra Sulsel, Anhar Rahman mendorong koleganya, Najmuddin untuk bertarung di Makassar.

"Sebagai kader Gerindra, kami sama-sama caleg DPR RI. Saya mendukung penuh Najmuddin di Makassar pada 2024. Beliau layak diperhitungkan menjadi figur pendatang baru," ujar Anhar.

Anhar mengatakan, Najmuddin bisa menjadi opsi bagi Gerindra dalam menentukan figur. Apalagi di internal Gerindra sampai saat ini, belum ada figur yang menyatakan akan maju.

"Najmuddin punya kapasitas untuk maju. Kemarin, kami berdua sudah sama-sama berjuang di Pileg," imbuh Anhar.

Adapun Partai NasDem yang memenangkan pemilu di Kota Makassar juga telah ancang-ancang dalam menyiapkan figur. Meski menjadi pemenang dan memperoleh delapan kursi, namun NasDem tak dapat mengusung sendiri kandidat sehingga harus berkoalisi dengan partai lain.

Ketua NasDem Sulsel, Rusdi Masse mengatakan akan melakukan penjajakan ke partai lain untuk menentukan arah koalisi. Dia mengatakan NasDem memiliki banyak figur potensial yang bisa diusulkan untuk maju.

"Banyak kader NasDem bisa kita persiapkan. Ada Cicu (Andi Rahmatika), Mario, dan Rudianto Lallo. Ada juga ibu Fatma," kata Rusdi.

Sekretaris Golkar Sulsel, Marzuki Wadeng mengatakan Golkar tetap mempersiapkan Munafri Arifuddin sebagai calon Wali Kota Makassar 2024. Kendati demikian, ia juga mengakui bahwa modal enam kursi yang dimiliki Golkar akan butuh koalisi sehingga akan melakukan upaya penjajakan ke partai lain.

"Tinggal enam kursi kami bisa koalisi dan kerja sama dengan partai lain untuk mengusung pasangan calon," kata Marzuki.

Munafri alias Appi yang merupakan ketua Golkar Makassar mengakui pihaknya telah membangun komunikasi politik dengan PKB untuk berpaket pada Pilwali nanti. Dengan perolehan kursi Golkar yakni sebanyak 6 kursi, Appi mengatakan koalisi yang dinamainya ‘Koalisi Pisang Ijo’ ini sudah cukup kuat untuk melaju ke Pilwali Makassar.

"Sejauh ini kami komunikasi secara kepartaian dan didasari dengan hubungan kedekatan persahabatan dengan PKB," imbuh dia.

Appi mengatakan, PKB memiliki lima kursi hasil pemilu lalu. Dengan koalisi itu, kata dia, sudah cukup untuk mengusung satu pasangan calon.

"Tapi kita juga harus melihat geopolitik yang ada. Apakah dengan PKB saja sudah cukup, partai nasionalis, religius. Apakah harus ditambah dengan satu partai lain," ujar Appi.

Ketua PKB Makassar, Fauzi Andi Wawo membenarkan komunikasi itu. Namun, kata Fauzi, PKB saat ini belum menentukan figur yang akan diusung.

"Pihak Golkar ini sudah menunggu kami. Cuma belum bisa deklarasi karena kami belum bisa menyebut nama," ujar Fauzi.

Dia mengatakan, PKB Makassar baru melakukan tahapan penjaringan pada 1-7 April nanti. Setelah itu, kata Fauzi, PKB akan langsung melakukan deklarasi koalisi bersama dengan Golkar. Dia menegaskan tak menyiapkan figur eksternal untuk maju di pilwali.

"Pertama karena kami berpatokan pada hasil. Semua program yang kami rancang terlaksana dengan baik," imbuh dia.

Ketua Badan Pemenangan Pemilu PDI Perjuangan Kota Makassar, Raisuljaiz menyebut dengan modal lima kursi, pihaknya tetap akan mendorong kader potensialnya untuk di Pilwali Makassar. Bahkan beberapa nama telah siapkan seperti Andi Suhada, Fadli Ananda, Rudi Pieter Goni, Risfayanti Muin, dan Mesakh Tante Padang.
"Mereka semua kader baik yang diusung untuk Pilwali," beber Rais.

PDIP, kata dia, siap berkoalisi karena untuk mengusung pasangan calon harus punya 10 kursi anggota DPRD.

"Kami siap berkoalisi dengan partai – partai yang punya kesamaan visi misi untuk menata Kota Makassar jauh lebih baik. Nasdem, Golkar, PKB, PPP, termasuk Gerindra bisa kami ajak kerja sama," imbuh dia.

Ketua PDIP Kota Makassar, Andi Suhada tak menampik bahwa lima nama yang disebut memang semuanya kader potensial PDIP. Namun, ada banyak kader lain yang juga disebut potensial.

“Saya juga siap untuk partai. Dan ini berlaku bagi semua untuk kader yang dipersiapkan dalam kontestasi,” ujar Suhada.

“Intinya semua kader yang memang mau berjuang untuk partai kita dorong semua,” sambung dia.

Sementara itu, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tak ingin juga menyia-nyiakan momentum lima tahunan itu. Dengan modal enam kursi PKS sudah menyiapkan kader terbaik.

Ketua PKS Makassar, Anwar Faruq mengatakan beberapa nama yang mereka akan dorong yakni Meity Rahmatia, Sri Rahmi, dan Andi Hadi Ibrahim Baso.

Andi Hadi dinilai juga sangat potensial karena sebagai pemegang suara terbesar di PKS untuk DPRD Makassar. Saat ini, dia juga telah duduk sebagai anggota DPRD Makassar dan kembali terpilih. Anwar mengatakan, saat ini PKS juga sudah membuka penjaringan calon wali kota Makassar baik internal maupun eksternal.

"Jadi kepada putra putri terbaik Indonesia yang ingin membangun Makassar dipersilahkan mendaftar. PKS membuka pendaftaran. Tentunya yang sesuai dengan visi dan misi partai," kata Anwar.

Sementara itu, Sekretaris PPP Makassar, Rahmat Taqwa mengatakan dalam waktu dekat akan membuka penjaringan figur untuk diusung pada Pilwali Makassar. Dia mengatakan, PPP membuka peluang bagi siapa saja yang ingin diusung pada kontestasi lima tahunan itu.

"PPP dalam waktu dekat tetap membuka penjaringan, karena ini Partai umat sehingga kami harus membuka pintu untuk siapa pun," ujar Rahmat.

Rahmat mengatakan PPP melihat figur yang berpotensi untuk diusung pada Pilwali Makassar ada pada sosok Indira YUsuf Ismail, yang merupakan istri Wali Kota Makassar, Danny Pomanto.

"Kami terus melakukan komunikasi dengan pimpinan partai agar memprioritaskan Indira Jusuf Ismail untuk dicalonkan," ujar Rahmat.

Rahmat mengakui bahwa PPP harus berkoalisi untuk bisa mengusung pasangan calon. Tapi dia tetap optimis akan ada partai lain yang bisa berkoalisi dengan PPP untuk mengusung Indira nantinya.

"Tentu kami harus berkoalisi, semua Partai berpeluang berkoalisi dengan kami, apa lagi kami bagian dari Koalisi pemerintahan bapak Danny Pomanto selaku Walikota Makassar," ujar Rahmat.

Dia pun menjelaskan bahwa PPP cocok disandingkan dengan semua partai. Sebab PPP, kata dia, merupakan satu-satunya partai di Indonesia yang berasaskan Islam yang punya basis suara walaupun setiap periode hanya memperoleh lima kursi di DPRD Makassar.

"Basis kami kuat dan solid, sehingga tidak resisten dengan basis partai lain," ucap dia.

Manajer Strategi dan Operasional Jaringan Suara Indonesia (JSI) Nursandy Syam melihat meski Pemilu 2024 belum sepenuhnya usai, mengingat tahapan gugatan di MK sementara berjalan, namun sejumlah partai mulai ramai membahas persiapan jelang Pilwali Makassar.

'Atmosfer kontestasi Pilwali Makassar ke depan tentu punya perbedaan dibanding sebelumnya. Tidak adanya petahana maka membuka peluang bagi figur baru. Pertarungan menjadi lebih terbuka dan makin dinamis," ujar Nursandy.

Dirinya menyebutkan sejauh ini nama-nama yang diwacanakan akan bertarung dominan berstatus kader parpol. Namun, kata dia, secara personal masih sangat minim figur yang terang-terangan akan serius maju untuk bertarung di Pilwali Makassar.

"Publik akan melihat beberapa waktu ke depan siapa saja yang memanaskan mesin politiknya dan lebih memilih ‘wait and see’," ucap dia.

Nursandy mengatakan, bila dilihat perolehan kursi dari masing-masing parpol maka semuanya harus membentuk koalisi untuk memenuhi syarat pencalonan. "Ada empat partai yang secara potensi sangat memungkinkan memimpin poros koalisi sendiri. Nasdem, Golkar, Gerindra, dan PDIP," ucap dia.

"Kenapa hanya partai tersebut? meski ada PKS, PKB dan PPP yang juga punya kursi cukup signifikan di Pileg 2024 namun secara kekuatan elektoral Nasdem, Golkar, Gerindra dan PDIP masih lebih unggul jika dilihat dari banyak sisi," sambung Nursandy.

Nursandy menyebutkan mayoritas figur yang diwacanakan maju bertarung merupakan kader parpol, "Kita tentu berharap adanya figur dari non parpol yang ikut meramaikan bursa pencalonan nantinya," beber dia.

Disamping itu, figur berstatus caleg terpilih yang ingin maju tentu harus punya kalkulasi yang matang.

"Sebab konsekuensinya harus menanggalkan status anggota DPRnya. Jika tidak punya perhitungan yang tepat, mereka tidak akan dapat apa-apa," kata dia.

Direktur Riset dan Data Lembaga Insert Institute Reskiyanti menilai sejumlah nama figur baru yang berpeluang maju di Pilwali Makassar tentu patut diperhitungkan, apalagi memiliki jejaring dan kendaraan partai.

Dia mengatakan potensi Appi (Golkar) dan Fatmawati ( NasDem) memiliki keunggulan dalam hal sumber daya dan jaringan politik. "Karena dua partai ini memiliki infrastruktur politik yang sudah mapan," ujar Reski.

Adapun figur seperti Syamsu Rizal (PKB) dan Ahmad Susanto (PKS) mungkin akan mengandalkan dukungan ideologis dan komunitas yang spesifik dan bisa menjadi kunci ketika pemilihan diputuskan oleh margin yang tipis.

"Tetapi bila bicara pengalaman dan rekam jejak, semua sudah punya pengalaman dalam dunia politik. Jadi para calon mungkin harus punya sensitivitas isu dan kebijakan yang menawarkan solusi konkret atas masalah sosial di masyarakat," ujar dia. (fahrullah-suryadi/C)

  • Bagikan