Ganjar Paparkan Persoalan Toleransi Hingga Ketimpangan Kemiskinan di UNM

  • Bagikan
Calon Presiden 2024, Ganjar Pranowo saat memaparkan gagasan di UNM, Sabtu (18/11/2023). Suryadi/RakyatSulsel

MAKASSAR, RAKYSULSEL.CO - Calon Presiden 2024, Ganjar Pranowo menghadiri undangan dari Ikatan Keluarga Alumni Universitas Negeri Makassar dalam acara sarasehan dengan tema Reposisi Praktik Demokrasi Pancasila dan Ekonomi Menuju Indonesia yang Berkeadilan, Sabtu (18/11/2023).

Pada kesempatan itu, mantan Gubernur Provinsi Jawa Tengan tersebut memaparkan gagasan terkait soal persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia.

Pasangan Mahfud MD ini mulai mengupas ihwal tolelaransi, HAM, penegasakan keadilan hingga persoalan sosial kemiskinan kini belum bisa tuntas oleh Pemerintah.

"Persoalan keadilan menjadi keinginan dan tuntutan masyarkat saat ini, oleh karena itu mereka pasti mencari orang terbaik memajukan negeri ini," katanya.

Selain itu, kata dia, toleransi perlu dirawat. Dalam pembahasan ini, Ganjar pun sangat mengapresiasi karena adanya adat budaya Bugis Makassar, yaitu Sipakatau, Sipakainga, Sipakalebi', artinya saling menghormati, saling menghargai dan saling mengingatkan.

Apalagi, lanjut Ganjar, soal toleransi di Indonesia berada pada posisi 166 dari 196 negara.

"Kaitan toleransi, masalah utama adalah bagaimana hal ini terus dijaga. Sehingga yang menjadi konsentrasi saya bagaiaman belajar toleransi Bugis Makassar, yaitu Sipakatau, Sipakainga, sipakalebih," katanya.

Dia menyatakan, ternyata memanusiakan manusia dan saling menghargai itu sudah sangat lama diterapkan di daerah Bugis Makassar.

"Membangun sebuah negera, menurut saya harus mengedepankan saling bertoleransi, silaturahmi antara umat beragama dan saling hargai dalam bhineka tunggal ika," tutur Ganjar.

Lebih jauh, politisi PDIP ini juga mengungkit soal penegakan hukum di Indonesia yang harus lebih independen.

"Harapan masyarakat tinggi pada keadilan, pendekatan HAM lebih baik dan memperkuat lembaga HAM dari kasus per kasus. Kita harus mencari dengan cara apa kita tuntaskan sehingga menjadi komitmen penyelesaian masalah ini," tegasnya.

Tak lupa, Ganjar juga bilang, jaminan sosial juga harus diberikan kepada mereka membutuhkan agar tidak sekadar menunggu dari masukan dari publik.

"Kita wajib lebih memperhatikan penyandang kelompok disabilitas dan kelompok perempuan dan perwakilan anak. Karena mereka lebih membutuhkan," kata Ganjar.

"Jangam cerita soal pembanguann, prestasi lain kalau masih ada yang membutuhkan. Ini investasi besar masa depan," tutupnya. (Suryadi/C)

  • Bagikan