Krisis! Harga Beras Tinggi, Pupuk Menyusut

  • Bagikan
Ilustrasi Seorang Petani Memanen Padi

MAKASSAR, RAKYATSULSEL - Kenaikan harga beras tak benar-benar dinikmati petani. Modal yang dikeluarkan sangat besar.

Memang ada kenaikan pemasukan. Namun dengan musim kemarau yang baru berlalu, mereka harus menambah ongkos demi mengairi sawah. Belum lagi pupuk yang kesulitan mereka dapat.

Saat ini, harga beras premium tertinggi mencapai Rp17 ribu per kg. Padahal Harga Eceran Tertinggi (HET) hanya Rp13.900 per kg. Beras medium yang HET-nya Rp10.900 per kg, sudah menyentuh harga Rp14.000 per kg.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Wajo Syahruddin mengatakan harga gabah memang menyentuh angka tertinggi sejak Indonesia merdeka. Yakni, di angka Rp8.000 per kg.

Akan tetapi, harga tersebut tidak sebanding dan sepadan dengan biaya produksi yang harus dikeluarkan pada petani. Sehingga, harga beras yang tinggi saat ini sama sekali tidak dapat dianggap sebagai harta karun bagi petani.

"Persoalannya biaya atau cost juga tinggi. Mulai dari biaya direct pompa, BBM, dicampur pupuk subsidi dan nonsubsidi, obat-obatannya juga mahal. Kalau yang harga Rp8 ribu produksi normal kami anggap masih untung. Karena gabah itu sebenarnya kalau tidak ada faktor X penurunan produksi, Rp5 ribu per kg itu sudah cukup," terang Syahruddin, kemarin.

Selain itu, faktor kemunduran puncak panen juga memengaruhi. Dampak yang diberikan oleh anomali cuaca sangat terasa. Bahkan, baru sekitar 20 persen lahan petani yang bisa panen. Sisanya, masih menjerit.

Yang masih bisa diharapkan untuk panen adalah daerah-daerah yang dilengkapi pompanisasi. Itu pun, tidak merata. Sehingga, hanya sebagian kecil saja saat ini merasakan sedikit keuntungan atas naiknya harga beras.

"80 persennya tidak merasakan. Bahkan para petani yang sudah kehabisan beras, kembali membeli beras justru merasakan imbas harga beras naik," ungkapnya.

Para petani di Wajo sudah mengambil ancang-ancang ketika musim hujan tiba, mereka segera menanam. Di satu sisi, para petani waswas ketika sudah menanam justru kekeringan kembali melanda.

Syahruddin berharap pemerintah dapat menyiapkan infrastruktur irigasi, pemberian alsintan, dan sarana seperti pupuk dan benih. Jika tak menggunakan benih unggul, akan susah juga mendapatkan produksi yang tinggi.

"Kami perkirakan pertengahan Maret sampai akhir Maret sudah memasuki musim tanam. Habis panen langsung tanam, sambung tanam pada awal April. Kami andalkan pompanisasi," bebernya.

Soal Pupuk

Syahruddin mengaku, tidak terlalu risau dengan ketersediaan pupuk. Ia jamin di Wajo pupuk subsidi masih tersedia pada musim tanam berikutnya.

Apalagi, bulan lalu, Menteri Pertanian sudah berkunjung ke sana. Mentan menjanjikan penambahan kuota pupuk subsidi ke depannya. Sebab, saat ini sangat sulit bagi petani jika harus memakai pupuk nonsubsidi.

"Di 2022 ada kenaikan produksi di Wajo 1 juta ton, tapi 2023 akibat pupuk langka dan anomali iklim menurun drastis. Tapi Pak Menteri sudah menjamin dan memberi rambu-rambu di musim tanam selanjutnya. Memang iklim yang belum merata hujannya," sambungnya.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Sulsel Imran Jausi mengungkapkan harapannya serupa dengan yang diinginkan masyarakat. Bahwa, akan ada tambahan kuota pupuk subsidi yang tahun ini dipangkas hingga 45 persen dari tahun sebelumnya.

Pasca mendampingi kunjungan Mentan, Januari lalu, ia mengaku juga sudah mendapat rambu bahwa Sulsel akan mendapatkan jatah tambahan pupuk subsidi pada musim tanam berikutnya. Minimal sejumlah dengan kuota yang diperoleh Sulsel tahun lalu.

Jika pun lebih, akan berdampak juga pada peningkatan produksi di Sulsel yang tahun lalu defisit karena anomali cuaca. Apalagi, pupuk merupakan kebutuhan yang tak ada habisnya. Sehingga, bisa disimpan pada musim tanam setelahnya.

"Oleh karena itu Pak Mentan sampaikan akan ada tambahan alokasi APBN kuang lebih Rp14 triliun. Secara resmi persuratan juga sudah disampaikan pada kami. Apa yang kami lakukan di sini? Ya tentunya kami menunggu petunjuk pelaksanaan terkait tambahan kuota itu," tukas Imran.

Pemprov tahun ini juga akan membangun 100 sumur bor di berbagai titik penghasil beras. Sumur itu juga dilengkapi pompa air agar bisa disalurkan ke lahan masyarakat. Lalu, ada juga program mandiri benih, meskipun tidak sebanyak tahun lalu.

Benih yang dibagikan dahulu merupakan benih pokok, sehingga seharusnya masih bisa digunakan dan dibagikan para penerima kepada petani lainnya. Bukan benih sebar yang langsung diproduksi.

"Kita optimis karena Kementan juga membantu kita benih-benih bermutu, di provinsi terbatas karena kita juga mau menghidupkan hortikultura kita untuk kesejahteraan masyarakat. Yang kita khawatirkan cuma iklim cuaca, mudah-mudahan hujan agak panjang-panjang. Kalau adami air, pupuk, benih insyaallah aman," cetusnya.

Total kuota pupuk subsidi yang diterima Sulsel tahun 2024 sebesar 417.637 ton. Berdasarkan jenis pupuknya, jenis Urea mendapat jatah 238.398 ton, jenis NPK 173.165 ton, dan NPK formula khusus 6.074 ton. Angka ini jauh di bawah jatah tahun 2023 lalu yakni sekira 420 ribu ton untuk pupuk Urea, dan 243 ribu ton Phonska (NPK).

Subsidi Pupuk Urea dengan kuota terbesar diberikan kepada Kabupaten Bone dengan 40.106 ton. Disusul Gowa 25.390 ton, dan Wajo 17.887 ton. Pemberian kuota pupuk subsidi tersebut berdasarkan luasan wilayah pertanian kabupaten/kota masing-masing.

Untuk jenis NPK, Bone mendapatkan kuota subsidi sebesar 26.684 ton, Gowa 17.838 ton, dan Wajo 14.658 ton. Harga Eceran Tertinggi setiap jenis pupuk bersubsidi. Untuk Pupuk Urea Rp2.250 per kg, Pupuk NPK Rp2.300 per kg, dan NPK untuk Kakao Rp3.300 per kg. (fjr/raksul)

  • Bagikan