Petahana Rawan di Dapil Satu

  • Bagikan
karikatur/rambo

MAKASSAR, RAKYATSULSEL - Perebutan kursi di daerah pemilihan Sulawesi Selatan Satu untuk Dewan Perwakilan Rakyat RI akan berlangsung sengit. Petahana dari dapil ini akan peras keringat menghadapi tantangan para kontestan anyar yang berkualifikasi sebagai menteri, kepala daerah, dan tokoh berpengaruh.

Enam petahana di dapil Sulsel Satu DPR RI, akan kembali bertarung pada Pemilu 2024. Mereka adalah Hamka Baso Kady (Golkar), Aliyah Mustika Ilham (Demokrat), Andi Ridwan Wittiri (PDIP), Ashabul Kahfi (PAN), Azikin Solthan (Gerindra), dan Amir Uskara (PPP).
Haruna dari PKB sudah tidak maju lagi karena tidak masuk dalam daftar calon sementara. Adapun Muhammad Rapsel Ali telah meninggal dunia.

Para petahana ini akan mendapat penantang berat dari pendatang baru. Mereka di antaranya Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Nasdem), Bupati Jeneponto Iksan Iskandar (Golkar), dan Anggota DPD RI Ajiep Padindang (Golkar).

Direktur Parameter Publik Indonesia (PPI) Ras M.D berpandangan, Dapil Satu Sulsel merupakan salah satu dapil yang masuk kategori rawan bagi para petahana. Apalagi, kata dia, dua kursi telah "lowong" jauh sebelum pertarungan dimulai.

"Artinya, ada dua kursi yang dipastikan akan diisi oleh pendatang baru. Sedangkan enam kursi lainnya dalam status rawan. Apakah petahana masih tetap bisa mempertahankan atau kalah dari penantang," ujar Ras, Selasa (16/5/2023).

Ras menilai, status sebagai petahana DPR RI bukan jaminan utuh bisa kembali terpilih. Dalam kondisi normal, paling tidak ada dua faktor besar petahana bisa dikalahkan.

"Faktor pertama mengenai kinerja. Faktor kedua yakni penantang yang penerimannya jauh lebih terbuka atau berstatus sebagai tokoh," ujar dia.

Menurut Ras, sederetan calon penantang yang akan tampil berlaga di Dapil Sulsel Satu merupakan tokoh-tokoh politik berpengaruh. Apalagi mayoritas dari mereka dalam status sebagai pejabat publik.

Pengamat politik, Muhammad Asratillah menilai, khusus untuk Dapil Sulsel Satu DPR, dari komposisi caleg yang ada maka tergambar posisi incumbent memang tidak mudah.

"Dengan masuknya tokoh-tokoh politik terkenal, maka incumbent mesti lebih giat dan kreatif lagi dalam mendulang suara," ujar Asratillah.

Dia melanjutkan, di Partai Golkar, walaupun Hamka B. Kady secara elektoral cukup kuat berdasarkan hasil Pemilu 2019, namun hadirnya Ajiep Padindang dan Ikhsan Iskandar, akan menjadi pembeda dalam mendulang suara.

"Maka petahana patut mempertahankan lumbung suara yang ada sambil memetakan basis suara yang baru," kata Asratillah.

Yang menarik, lanjut Asratillah, komposisi caleg dari Partai NasDem yang "bertabur bintang": SYL, Rudianto Lallo, Fatmawati, dan Ahmad Daeng Se're. Komposisi ini membuat peluang NasDem untuk mendapatkan dua kursi di Dapil Satu cukup terbuka lebar.
Selain itu, mantan kepala daerah, wakil kepala daerah, dan politikus senior juga tersebar di parpol-parpol lain. Belum lagi mantan birokrat senior atau pun mantan pimpinan BUMN banyak yang ikut bertarung di Dapil Satu.

"Dan kemampuan mereka ini tidak bisa diremehkan sebab memiliki modal sosial sekaligus finansial yang cukup," ujar dia.

Asratillah menilai, calon pemilih patut mengetahui bahwa tokoh politik yang kuat secara elektoral tidak hanya mempengaruhi dinamika pertarungan di internal parpol, tetapi juga akan mempengaruhi dinamika pertarungan di parpol lain. Mengingat sumber daya suara yang diperebutkan bersifat terbatas.

Untuk menghadapi situasi di atas, Asratillah menyatakan para petahana mesti melakukan beberapa hal untuk mempertahankan posisinya. Pertama, melakukan mapping dan positioning secara detail. "Bikin bagan dengan asumsi medan laga elektoral masih sama seperti Pemilu 2019. Dengan masuknya beberapa figur kuat maka peta situasi pasti ikut berubah," ujar dia.

Kedua, lanjut Asratillah, para petahana mesti mampu menakar kekuatan dirinya dan dikomparasikan dengan kekuatan para kompetitor. Mereka mesti mempelajari dan mengambil pelajaran dari kompetitor mereka.

Ketiga, para incumbent mesti mengadaptasi ulang metode komunikasi politik mereka. Selera pemilih mesti diketahui, apalagi memasuki era demokrasi digital.

"Keempat, para incumbent mesti konsolidasi ulang dan meremajakan jejaring elektoral mereka. Apalagi jejaring yang selama ini cenderung dorman alias kurang aktif," tutur Asratillah.

Pengamat politik dari Universitas Hasanuddin Andi Ali Armunanto menilai hasil Pileg untuk Dapil Sulsel Satu sangat ditentukan oleh kesiapan masing-masing caleg. "Strategi membangun struktur, partai, maupun tim pemenangan untuk menjalankan marketing politik mereka," ujar dia.

Menurut dia, para caleg tersebut tidak boleh hanya mengandalkan posisi atau mengandalkan basis massa pendukung selama ini. Tapi, kata Andi Ali, terpenting adalah menyiapkan mesin-mesin politik yang akan bekerja, baik di partai maupun di tim pemenangan. Kemudian membangun citra politik melalui strategi marketing dan branding politik yang tepat. (suryadi-fahrullah/C)

  • Bagikan