Jaga Militansi Kader

  • Bagikan

MAKASSAR, RAKYATSULSEL - Partai ini dikenal memiliki kader yang militan. Itu sebabnya, Partai Keadilan Sejahtera selalu punya performa apik hingga di akar rumput di setiap kontestasi politik. Di Sulawesi Selatan, PKS tetap kukuh di papan tengah dan mampu meraih kursi pimpinan parlemen pada 2019, meski satu kursi ke Senayan luput. Ada target besar yang dipatok untuk Pemilu 2024.

Ariady Arsal seharusnya lolos ke Senayan pada Pemilu 2019. Dengan perolehan 40 ribu suara lebih, sudah cukup mengantarkan eks legislator DPRD Sulsel itu berkantor di Jakarta. Sayang, perolehan suara PKS di Daerah Pemilihan Sulawesi Selatan Satu kalah dari partai lain sehingga yang bersangkutan gagal melaju.

Padahal, Ariadi digadang-gadang sebagai suksesor Tamsil Linrung yang pada 2019 memilih maju ke Dewan Perwakilan Daerah. Dalam beberapa kali Pemilu, Tamsil selalu mewakili PKS di dapil tersebut.

Tak ingin pengalaman 2019 terulang, PKS Sulsel menurunkan kekuatan baru dalam daftar bakal calon legislatif. Dua legislator DPRD Sulsel "dipaksa" naik kelas di Dapil Sulsel Satu.

Ketua Badan Pemenangan Pemilu PKS Sulsel, Arfianto mengatakan pihaknya mengutus Meity Rahmatia dan Sri Rahmi untuk mendampingi Ariady Arsal, mendulang suara. Pada Pemilu 2019, Meity memperoleh 19.090 suara dari Dapil Gowa-Takalar dan
Sri Rahmi meraih 13.280 suara dari Dapil Makassar B.

"Naiknya Sri Rahmy dan Meity ke Senayan untuk memuluskan capaian target empat kursi DPR RI," ujar Arifianto, Selasa (13/6/2023).

Mantan Ketua PKS Selayar ini mengatakan pihaknya sudah mengantisipasi kosongnya kursi yang akan ditinggal oleh Sri Rahmi dan Meity. Salah satunya, Anggota DPRD Kota Makassar, Yenny Rachman diminta untuk naik kelas.

Satu legislator DPRD Sulsel yang diminta untuk ke Senayan adalah Ismail Bachtiar. Yang bersangkutan akan saling dukung dengan petahana DPR RI, Andi Akmal Pasluddin.

Pada Pemilu 2024, PKS mematok perolehan di DPRD Sulsel sebanyak 15 kursi. Adapun untuk perolehan kursi di seluruh kabupaten dan kota berjumlah 115.

Sekretaris PKS Sulsel, Rustang Ukkas mengatakan pihaknya optimistis menempatkan kader di DPR RI, DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota. Dengan komposisi bacaleg saat ini, maka diyakini akan mendapat kursi maksimal sesuai target yang telah ditentukan.

"Kami tetap bisa mengunci kursi pimpinan DPRD Sulsel," ujar Rustang.

Dia mengatakan, modal utama PKS Sulsel adalah para bacaleg yang siap bertarung di setiap dapil. Selain itu, seluruh struktur sudah lengkap hingga tingkat TPS dengan dihuni oleh kader yang militan.

"Setiap caleg pasti memiliki peluang menambah kursi. Petahana juga tetap mempertahankan kursi di setiap dapil," kata Rustang.

PKS Sulsel hanya lemah di Dapil Sepuluh Sulsel yang meliputi Tana Toraja dan Toraja Utara. Dalam beberapa pemilu, PKS selalu gagal meraih satu dari lima alokasi kursi dari dapil yang dihuni mayoritas pemilih non muslim tersebut.

Ketua PKS Sulsel, Amri Arsyid berharap PKS bisa mengisi kursi di DPRD Tana Toraja (Tator) dan DPRD Toraja Utara (Torut), yang sudah 2 periode kosong lewat bacaleg non muslim. Dia mengatakan PKS punya tekad untuk berkontribusi di daerah yang penduduknya mayoritas non muslim.

"Makanya pada Pemilihan Legislatif (Pileg) 2024 mendatang, PKS ingin kembali meraih kursi," ujarnya.

Ada dua target utama yang diinginkan selain kursi. Pihaknya menginginkan PKS itu bisa berkontribusi untuk daerah-daerah yang relatif penduduk muslimnya itu minoritas. DPD PKS Tana Toraja dan Toraja Utara diminta mengisi bacaleg non muslim sebagai representasi PKS di daerah berpenduduk minoritas muslim.

Dia mendorong ketua DPD di Toraja Utara dan Tana Toraja itu untuk melakukan rekrutmen dari teman-teman yang non muslim untuk bergabung dengan PKS. "Supaya PKS juga bisa menempatkan perwakilannya di DPRD yang kira-kira mempresentasikan mayoritas penduduk yang ada di Toraja," sebut dia.

Menurutnya, daerah dengan mayoritas non muslim memang perlu penyesuaian, yakni dengan menempatkan perwakilan dari non muslim pula. Amri juga menyebut PKS kini sudah mulai melakukan pendekatan dengan pengurus-pengurus gereja. Jadi kalau mayoritas non muslim harusnya ya ada perwakilan dari non muslim juga.

"Kita lagi berupaya melakukan itu, termasuk strukturisasi yang kita lakukan juga melakukan pendekatan kepada teman-teman dari gereja maupun teman-teman non muslim yang ada di sana," imbuhnya.

Lebih lanjut Amri mengatakan PKS sudah dua periode tanpa kursi di DPRD Tana Toraja dan DPRD Toraja Utara. "Makanya pada Pileg 2024 nanti PKS menargetkan bisa meraih 2 kursi legislatif di 2 kabupaten tersebut," kata dia.

Lebih jauh Amri Arsyid mengatakan, saat ini PKS makin kuat dengan hadirnya organisasi sayap yakni Garuda Keadilan. Organisasi ini, kata dia, dihuni oleh mayoritas anak muda yang siap bergerak di kabupaten dan kota.

"Garuda Keadilan Sulsel ini menambah semangat dan motivasi untuk bersama-sama memperjuangkan PKS. Pemuda yang terlibat dalam politik adalah pahlawan demokrasi. PKS mendorong anak-anak muda untuk terlibat aktif dalam politik," ujar Amri.

Dia mengatakan, kehadiran Garuda Keadilan itu merupakan bukti bila bila PKS benar-benar ingin menjadikan kalangan milenial sebagai garda terdepan dalam membela kepentingan masyarakat.

Direktur Parameter Publik Indonesia (PPI) Ras Md menyatakan peluang kemenangan partai di Sulsel masih didominasi oleh partai yang berhaluan nasionalis seperti Golkar, NasDem, dan Gerindra.

"Artinya jika berhitung partai papan atas di Sulsel, tiga partai ini masih tetap mendominasi perolehan suara pada pemilu mendatang," ujar Ras.

Menurut dia, PKS dengan platform religius cukup sulit masuk dalam pertarungan klaster tiga partai papan atas tersebut. Olehnya itu, PKS Sulsel hanya perlu memastikan posisinya unggul dari tiga partai yang berhaluan religius lainnya yakni PKB, PPP, dan PAN.

"Nah, di klaster partai religius mestinya PKS bisa tampil dominan, jika tidak tentu akan kesulitan untuk mencapai target yang telah dipatok," ujar dia.

Menurut Ras, kondisi tersebut mesti dihitung oleh para penggerak PKS Sulsel. Dia menilai, kekuatan PKS Sulsel sebenarnya cukup potensial untuk tampil kuat dalam pemilu mendatang. Paling tidak, ada tiga faktor PKS bisa tampil kuat dalam pemilu mendatang.

Faktor pertama, kata Ras, rekam jejak elektoral. Pada Pemilu 2014 dan 2019, perolehan PKS mengalami kenaikan yang cukup baik.
Faktor kedua, PKS masuk dalam partai koalisi yang mengusung Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel pada 2018.

Dengan modal ini, kata Ras, seharusnya bisa dikapitalisasi oleh PKS dengan aneka program pemerintahan, terutama program yang pro terhadap rakyat.

"Faktor ketiga, efek ekor jas dari pencapres Anies Baswedan. Kondisi ini mesti direspons cepat oleh PKS. Pilihan Pilpres masyarakat Sulsel didominasi oleh dua figur besar saja yakni Prabowo dan Anies," imbuh dia.

Peneliti PT Penta Helix Indonesia, Muhammad Asratillah mengatakan, dua hal yang merupakan keunggulan PKS dibanding partai-partai lain di Sulsel. Pertama, kata dia, PKS adalah partai yang berbasis kaderisasi dengan militansi kader yang cukup terjaga dan suplai kader selalu mencukupi hingga di tingkat pimpinan paling bawah.

Kedua, PKS memiliki platform dan ideological packing yang jelas, sehingga segmen utama pemilih yang disasar juga jelas, begitu pula dengan isu politik yang dilempar ke publik.

"Petahana di PKS posisinya masih cukup kuat karena sudah mampu mendayagunakan modal politik yang ada di internal PKS, sehingga para pendatang baru mesti memperluas jejaring politiknya serta melakukan pencitraan diri melalui media yang tepat," ujar Asratillah.

Dia menilai, sedikit banyaknya Partai Gelora akan mengganggu basis PKS khususnya di Sulsel, mengingat Ketua Umum Gelora Anis Matta adalah orang Sulsel. Menurut Asratillah, PKS pada 2019 di beberapa daerah kehilangan kursi karena banyak kader yang melompat ke Partai Gelora.

"Tapi saya yakin PKS Sulsel sudah mempersiapkan segala hal untuk 2024, terutama dalam mengantisipasi kehadiran Partai Gelora," imbuh dia. (fahrullah-suryadi/C)

  • Bagikan