Partai Guram Kerja Ekstra

  • Bagikan
karikatur/rambo

MAKASSAR, RAKYATSULSEL - Layu sebelum berkembang. Pepatah ini akan berusaha dipatahkan oleh partai-partai baru dan non parlemen pada Pemilu 2024. Ketatnya persaingan dan tingginya ambang batas perolehan suara di angka empat persen, membuat partai-partai kecil ini harus berjuang keras. Bagaimana peluang partai-partai gurem di Sulawesi Selatan ini untuk meraih kursi di parlemen?

Percaya diri merupakan senjata ampuh bagi partai-partai baru dan non parlemen menghadapi pemilihan umum, tahun depan. Nasib 'sial' sejumlah partai besar pada pemilu sebelumnya yang gagal lolos ambang batas akan membayangi kontestasi nantinya.

Betapa tidak, pada Pemilu 2019, sejumlah partai yang terbilang pernah sukses merebut kursi harus terdepak dari parlemen tingkat Nasional. Sebut saja Partai Hanura dan Partai Bulan Bintang.

Kini, partai baru dan non parlemen seperti Partai Gelora, Partai Kebangkitan Nusantara, Partai Ummat, Partai Bulan Bintang, Partai Solidaritas Indonesia, dan Partai Buruh akan ikut dalam persaingan di 2024.

Sekretaris Partai Gelora Sulawesi Selatan, Mudzakkir Ali Djamil menyadari sebagai partai yang baru pertama kali ikut pemilu, akan menjadi tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya, dengan desain strategi jitu dan efektif agar bisa mencapai target yg diharapkan.

Mudzakkir mengatakan, Partai Gelora menargetkan perolehan minimal satu kursi setiap daerah pemilihan di setiap tingkatan. Modalnya adalah, formasi bakal calon legislatif diyakini mampu merealisasikan target tersebut. Para caleg Gelora diisi oleh tokoh dan figur yang memiliki basis suara jelas dan jaringan yang kuat.

"Ada yang mantan legislator, tokoh masyarakat, aktivis, pengusaha, serta dari kalangan milenial yang siap bertarung untuk memperebutkan kursi di dapil masing-masing," ujar Mudzakkir, Selasa (20/6/2023).

Dia membeberkan sejumlah tokoh yang akan bertarung untuk DPR RI seperti Ketua Gelora Sulsel Syamsari Kitta, Asriadi Samad, Jafar Sodding, Taslim Tamang, dan Abdullah Rahim.

Menurut dia, caleg yang disiapkan sudah siap dan telah membangun tim di dapil masing-masing. Masing-masing caleg yang diusulkan langsung diberi tugas untuk membagun strategi dan membentuk tim sukses.

Ketua Gelora Sulsel, Syamsari Kitta menyatakan bahwa Partai Gelora punya peluang untuk terus mewarnai perpolitikan Indonesia. Menurut dia, kampanye Partai Gelora adalah kampanye literasi dengan mengajak seluruh masyarakat untuk punya mimpi agar bisa terus bergerak

"Mimpi yang kami ajarkan, akan terus menemani bangsa ini dalam jangka panjang," ujar mantan Bupati Takalar ini.

Ketua PKN Sulsel Rudi Juniawan menyatakan sebagai parpol pendatang baru, saat ini, masih mempersiapkan tahapan pengajuan perbaikan bacaleg. Menurut dia, tidak menutup kemungkinan dalam interval itu ada figur yang ingin bergabung.

"Kami juga masih terbuka jika ada yang mau bergabung, mumpung masih ada waktu," kata Rudi.

Rudi mengatakan, PKN akan siap bersaing dengan 17 partai lainnya. dia juga tak mempermasalahkan pemilu dengan sistem proporsional terbuka sesuai putusan Mahkamah Konstitusi (MK).

"Kami tidak lagi harus menimbang kekurangan dan kelebihan masing-masing sistem pemilu, karena memang tidak ada sistem pemilu yang ideal," ujar dia.

Rudi mengatakan, siap bersaing dengan partai lama dan besar untuk mencapai target. Menurutnya, setiap caleg harus bekerja keras untuk mendapatkan satu kursi di setiap dapil.

Adapun Partai Solidaritas Indonesia Sulawesi Selatan melakukan perubahan struktur kepengurusan, baru-baru ini. Ketua PSI Sulsel yang sebelumnya dijabat Affandy Agusman Aris digantikan oleh Muhammad Surya.

"Pemilu 2024 kami menargetkan lolos ke parlemen baik provinsi maupun kabupaten kota," kata Muhammad Surya.

Menunut dia, dalam Pemilu 2024 PSI juga telah mendapat energi baru dengan bergabungnya banyak tokoh dan mantan legislator serta politisi senior di Sulsel.

"Gabungnya beberapa tokoh di Sulsel menambah kekuatan PSI untuk meraih kursi di parlemen," ujar dia.

Surya mengaku tak memasang target perolehan kursi pada Pemilu 2024. Menurutnya, formasi bakal calon legislatif dihuni figur-figur yang penuh pengalaman di dunia politik.

Direktur Eksekutif Parameter Publik Indonesia (PPI) Ras Md memberikan analisis soal peluang partai-partai gurem tersebut. Menurut dia, strategi untuk menang bagi partai baru itu, khususnya, di Sulsel bukanlah persoalan mudah.

"Dibutuhkan banyak variabel pendongkrak agar partai baru ini bisa mewujudkan harapan politiknya," imbuh Ras.

Ras mengatakan, sebagai partai baru, faktor pengenalan partai menjadi pekerjaan utama yang mesti diselesaikan. Tanpa variabel ini, lanjut dia, sulit bagi partai politik bisa menjadi perbincangan publik. "Selain aspek pengenalan, juga aspek akseptabilitas partai politik," ujar dia.

Selanjutnya, kata Ras, ketika kerja-kerja pengenalan dikerjakan dengan baik, aspek kesukaan partai politik juga mesti dibangun beriringan, agar publik tidak hanya sekadar mengenal, tapi menerima keberadaan partai baru ini.

"Kan, banyak program sosial even yang bisa dilakukan oleh parpol baru agar masyarakat dengan partai baru ini saling mengenal. Seperti pengadaan pasar murah, program kesehatan gratis atau yang lainnya," imbuh Ras.

Selain dua aspek di atas, kata Ras, hal yang tak kalah penting adalah, tokoh-tokoh yang terlibat menggerakkan partai baru ini dari pimpinan wilayah hingga level paling bawah adalah mereka yang punya magnet elektorat bagus.

"Jangan hanya sekadar menempatkan ketua-ketua partai yang tak punya kapasitas dalam menggerakkan roda organisasi. Saya pikir, tiga hal dasar ini mesti dibenahi dulu oleh partai-partai baru," ujar dia.

Pengamat politik dari Profetik Institute, Muhammad Asratilla menyebutkan kehadiran partai baru dan non parlemen tentu akan membuat pesta demokrasi di 2024 mendatang akan semakin semarak. "Kehadiran partai baru dan non parlemen sebagai peserta pemilu biasanya diikuti dengan beberapa fenomena," katanya.

Asratillah mengatakan, akan banyak figur baru yang akan maju dalam kontestasi pileg, mengingat mendaftar menjadi caleg di partai lama tentu bukan hal mudah. Dan, figur-figur baru ini tentu masih perlu diuji kemampuannya dalam meraup suara.

"Mengingat jumlah suara terbatas dan para pemain lama sudah punya semacam teritori yang menjadi basis suara," imbuh dia.

Alasan kedua, sambung Asratillah, biasanya partai baru menjadi tempat berlabuh bagi politisi lama yang meninggalkan partai sebelumnya. Semisal Gelora yang diisi oleh politisi lama dari PKS, PKN yang diisi oleh sejumlah politisi lama dari Demokrat, dan Partai Ummat yang diisi oleh politisi lama dari PAN, sehingga kehadiran parpol baru akan sedikit banyaknya mengganggu gerak partai lama.

"Intinya, belum ada petahana di partai baru sehingga partai baru mesti memiliki strategi cerdas agar di Pemilu 2024 mereka memiliki kans kursi yang cukup sebagai titik tolak yang baik bagi pemilu-pemilu berikutnya," imbuh dia.

Manajer Strategi dan Operasional Jaringan Suara Indonesia (JSI) Nursandy Syam mengatakan dengan ambang batas parlemen secara nasional sebanyak 4 persen, maka kans partai baru dan partai-partai kecil akan membutuhkan effort yang luar biasa untuk dicapai.

"Branding partai, kekuatan kapital, dan kualitas caleg yang dipersiapkan akan ikut menentukan masa depan partai secara nasional," ujar dia.

Sebagai contoh, kata Nursandy, berkaca dari Pemilu 2019, Partai Perindo sejatinya mampu meraih kursi di beberapa dapil, namun kandas karena perolehan suara secara Nasional tidak mencapai 4 persen. "Pemilu 2024 jumlah peserta pemilu meningkat dan jumlah dapil juga bertambah menjadi 84. Praktis persaingan makin ketat," kata Nursandy.

Dirinya menyebutkan setidaknya untuk mencapai 4 persen, parpol baru dan partai-partai kecil perlu fokus pada dapil garapan yang potensial saja. "Tidak perlu habis-habisan di dapil yang memang sulit untuk mendapatkan kursi," imbuh dia. (suryadi-fahrullah/B)

  • Bagikan